KONTEN

INQUIRY

Forward an inquiry or send request to the secretariate.


 

Jengkol bukan komoditas strategis yang diurus pemerintah

01 June, 2013 by Alec Sutaryo

Jengkol bukan komoditas strategis yang diurus pemerintah

Jengkol bukan komoditas strategis yang diurus pemerintah

Pemerintah tidak perlu turun tangan mengatasi masalah jengkol yang harganya hampir sama dengan daging ayam. Pemerintah hanya mengurusi komoditas strategis yang dibutuhkan banyak orang.

Pemerintah tidak perlu turun tangan mengatasi masalah jengkol yang harganya hampir sama dengan daging ayam.

Pemerintah hanya mengurusi komoditas strateHarga jengkol di pasar saat ini meroket tajam hingga menembus Rp 50.000 per kilogram (kg).

Harga ini naik dua kali lipat dari yang biasanya hanya berkisar Rp 25.000 per kg.

Pengamat pertanian Khudori menilai naiknya harga jengkol karena hukum pasar biasa yaitu banyaknya permintaan dan berkurangnya supply di pasaran sehingga hargapun naik.

Menurut Khudori pemerintah tidak perlu turun tangan mengatasi masalah jengkol yang harganya hampir sama dengan daging ayam.

Pemerintah hanya mengurusi komoditas strategis yang dibutuhkan banyak orang.

"Urusan pemerintah itu komoditas strategis yang dibutuhkan banyak orang menyedot belanja rumah tangga yang pengaruhnya terhadap inflasi. Kalau semua komoditas diurusi pemerintah jadi sangat banyak," ucap Khudori ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (31/5).

Naiknya harga jengkol diprediksi karena naiknya kebutuhan dari beberapa orang tertentu.

Kenaikan harga jengkol juga hanya bersifat sementara karena tekanan permintaan yang tidak diimbangi dengan supply yang cukup.

"Ini temporer saja tekanan permintaan saja tidak mengimbangi supply. Ini hukum pasar saja. Enggak usah diurus pemerintahlah ini," tandasnya.

Di Bekasi, harga jengkol ini bahkan lebih tinggi dari beberapa bahan pokok lain seperti daging ayam boiler.

Menurut data Kementerian Perdagangan, per 28 Mei, harga ayam boiler di pasaran sebesar Rp 26.122 per kilogram.

Jengkol pun mengalahkan harga sembako lainnya seperti telur ayam kampung, cabe merah dan bawang merah.

Telur ayam kampung di pasaran mencapai Rp 35.127 per kg sedangkan cabe merah dan bawang merah rata-rata Rp 30.000 per kg.

Salah satu pedagang Pasar Kota Bekasi, Teguh (33), mengatakan tingginya harga jengkol akhir-akhir ini lantaran minimnya pasokan di pasaran.

Kelangkaan jengkol di pasaran disebabkan tak adanya pasokan dari Palembang.

Jengkol dari Sumatera Selatan biasa paling banyak dijual di pasaran.

Menurut dia, sejak sepekan terakhir ini jengkol yang ada di pasaran merupakan kiriman dari Kalimantan. Sehingga, harganya terus merangkak naik.

"Setiap hari naik per Rp 5.000, mulai dari harga Rp 25.000 hingga Rp 50.000," ucapnya.gis yang dibutuhkan banyak orang.

Terus meroket

Harga jengkol meroket tajam. Di Kota Bekasi, harga buah polong-polongan pencegah penyakit diabetes ini menembus Rp 50.000 per kilogram (kg) atau naik 100 persen dari harga biasanya yang berkisar Rp 25.000 per kilogram.

Harga jengkol ini bahkan lebih tinggi dari beberapa bahan pokok lain seperti daging ayam boiler.

Jengkol pun mengalahkan harga sembako lainnya seperti telur ayam kampung, cabe merah dan bawang merah.

Saat ini, harga jengkol sudah sejajar dengan harga ikan teri asin sebesar Rp 54.800 per kg dan daging ayam kampung sebesar Rp 50.773 per kg.

Teguh (33), pedagang sate jengkol, mengungkapkan harga jengkol di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Baru, Pasar Induk Cibitung, dan beberapa pasar tradisional lainnya dilakukan secara bertahap. Kenaikannya per Rp 5.000 per kilogram.

"Sejak naik menjadi Rp 30.000 saya sudah nggak jualan. Sekarang malah menjadi Rp 50.000," ujar pria yang biasa belanja di Pasar Baru, Bekasi ini.

Tingginya harga jengkol akhir-akhir ini lantaran minimnya pasokan di pasaran.

Kelangkaan jengkol di pasaran disebabkan tak adanya pasokan dari Palembang.

Jengkol dari Sumatera Selatan biasa paling banyak dijual di pasaran.

Menurut dia, sejak sepekan terakhir ini jengkol yang ada di pasaran merupakan kiriman dari Kalimantan. Sehingga, harganya terus merangkak naik.

"Setiap hari naik per Rp 5.000, mulai dari harga Rp 25.000 hingga Rp 50.000," ucapnya.

Tidak menutup kemungkinan harga jengkol ini akan terus merangkak naik ke depannya.

Warga berharap pemerintah melakukan antisipasi terkait kenaikan harga kebutuhan lainnya.

Pasalnya, menjelang kenaikan BBM dan Puasa, serta Lebaran tak menutup kemungkinan harga kebutuhan lainnya ikut mengalami kenaikan.

Masih wajar

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan wajar jika harga jengkol mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pasalnya, saat ini sudah mulai memasuki masa bulan puasa.

"Biasanya barang-barang sejenis seperti petai, jengkol dan kabau itu menjelang puasa meningkat," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (31/5).

Saat ini, harga jengkol telah menyentuh Rp 50.000 per kilogram (kg) atau meningkat 100 persen dari harga idealnya sebesar Rp 25.000 per kg. Hatta menilai peningkatan itu belum terlalu besar.

"Saya kira itu tidak terlalu besar dan mempengaruhi inflasi," tuturnya.

Hatta menegaskan jika kenaikan harga jengkol ini tidak harus dikhawatirkan. Dia percaya jika kenaikan harga jengkol ini tidak akan mengganggu stabilitas ekonomi. "Belum ada inflasi tinggi karena jengkol," jelasnya.

Sebelumnya, harga jengkol yang mencapai Rp 50.000 per kg ini bahkan lebih tinggi dari beberapa bahan pokok lain seperti daging ayam boiler. Menurut data Kementerian Perdagangan, per 28 Mei, harga ayam boiler di pasaran sebesar Rp 26.122 per kilogram (kg).

Jengkol pun mengalahkan harga sembako lainnya seperti telur ayam kampung, cabe merah dan bawang merah. Telur ayam kampung di pasaran mencapai Rp 35.127 per kg sedangkan cabe merah dan bawang merah rata-rata Rp 30.000 per kg.

Saat ini, harga jengkol sudah sejajar dengan harga ikan teri asin sebesar Rp 54.800 per kg dan daging ayam kampung sebesar Rp 50.773 per kg.

merdeka.com

 

DOKUMEN

Syarat kelengkapan dokumen untuk pengurusan Rekomendasi Gafeksi untuk mendapatkan SIUJPT baru dari Dinas Perhubungan DKI.


 

 
ALFI d/h Gafeksi DKI Jakarta - 2014
Webmaster & Editor: Kliping Online